Ciputra: Kita Terlalu Banyak Ciptakan Sarjana Pencari Kerja!

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengusaha Ciputra mengatakan, akar musabab kemiskinan di Indonesia bukan semata akibat akses pendidikan, karena hal itu hanya sebagian, melainkan karena negara tidak menumbuhkembangkan entrepreneurship dan jiwa entrepreneur dengan baik pada masyarakatnya.

“Kita banyak menciptakan sarjana pencari kerja, bukan pencipta lapangan kerja, itu membuat masyarakat kita terbiasa makan gaji sehingga tidak mandiri dan kreatif,” ujar Ciputra di hadapan peserta seminar “Entrepreneurship Inspiring Our Journey” yang digelar di SMA Kolese Kanisius, Jakarta, Sabtu (29/8).

Entrepreneur atau wirausahawan, kata pria yang akrab disapa Pak Ci’ ini, adalah seseorang yang mampu mengubah kotoran atau rongsokan menjadi emas. Dengan demikian, kata dia, negara selama ini hanya mencetak begitu banyak sarjana yang hanya mengandalkan kemampuan akademisnya, tetapi menjadikan mereka lulusan yang tidak kreatif.

“Malaysia punya lebih banyak wirausahawan daripada Indonesia, kini mereka lebih maju karena pendapatannya yang empat kali lebih besar dari Indonesia,” ujar Pak Ci’.

Sarjana pencari kerja

Makin banyak entrepreneur, sejatinya semakin makmur suatu negara. Ilmuwan dari Amerika Serikat (AS) David McClelland pernah menjelaskan bahwa suatu negara disebut makmur jika minimal mempunyai jumlah wirausahawan minimal 2 persen dari jumlah penduduk di negara tersebut.

Menurut Ir Antonius Tanan, Direktur Human Resources Development (HRD) Ciputra Group yang juga menangani Ciputra Entrepreneurship School (CES), bahwa pada 2007 lalu AS memiliki 11,5 persen wirausahawan di negaranya.

Sementara itu, Singapura mempunyai 4,24 juta wirausahawan pada 2001 atau sekitar 2,1 persen. Namun, empat tahun kemudian jumlah tersebut meningkat menjadi 7,2 persen, sedangkan Indonesia hanya memiliki 0,18 persen jumlah wirausahawan.

“Negara kita terlalu banyak memiliki perguruan tinggi dan terlalu banyak menghasilkan sarjana, tetapi sayangnya tidak diimbangi dengan banyaknya lapangan kerja,” tandas Antonius.

“Akhirnya kita hanya banyak melahirkan pengangguran terdidik, tahun 2008 kita punya 1,1 juta penganggur yang merupakan lulusan perguruan tinggi,” ujarnya.

Data tahun 2005/2006, misalnya, lanjut Antonius, terdapat 323.902 lulusan perguruan tinggi yang lulus. Kemudian dalam waktu 6 bulan dari Agustus 2006 sampai Februari 2007, jumlah penganggur terdidik naik sebesar 66.578 orang.

“Generasi muda kita tidak memiliki kecakapan menciptakan pekerjaan bagi dirinya sendiri karena mereka terbiasa berpikir untuk mencari kerja,” ujar Antonius.

LTF

Sumber : Kompas.Com

5 thoughts on “Ciputra: Kita Terlalu Banyak Ciptakan Sarjana Pencari Kerja!

  1. Sahabat,

    Benar sekali.Universitas kita sekarang ini hanya melahirkan kaum pengemis pekerjaan dan ‘pengusaha’ yang bergantung pada fasilitas.Hanya melahirkan manusia-manusia yang egois,tanpa ketulusan, cengeng, tidak mandiri, bahkan cenderung pemalas. Mau yang instan, yang gampang-gampang dan yang enak- enak saja,tanpa mau berjerih payah…

    Lihatlah sekarang. Kebanyakan ‘orang-orang kampus’ hanya mau jadi pengamat, yang ujung-ujungnya masuk ring kekuasaan.Para intelektual sekarang bisanya hanya hanya bicara…bicara…bicaraaa…(Padahal menjadi motivatorpun mereka bukan.Karena mereka tidak punya pendirian dan konsep hidup yang jelas. Tidak punya ‘desertasi kehidupan’ dan ‘desertasi kerakyatan dan kebangsaan’ yang akan mereka pertahankan mati-matian. Dalam rezim manapun.
    Belum lagi sangat miskinnya suara dan cara berbicara mereka).

    Para intelektual dengan gelar akademis seabreg itu hanya bicaraaaa terus, tanpa ada yang diperbuatnya secara KONKRIT dan NYATA untuk membangun mental bangsa, serta taraf hidup dan ekonomi bangsa kita..

    Justru mereka yang menjadi selebriti yang kaya raya dengan sering tampilnya berbicara.Padahal mereka sendiri tidak ada bukti kerja nyatanya.
    Tak ada sekolah yang mereka buka dengan biaya pribadinya untuk anak-anak kita belajar gratis, tak ada lapangan kerja yang mereka ciptakan bagi rakyat kita…

    Dan cara ‘mencari nafkah’ para ‘orang kampus; ini,(akan) ditiru mentah-mentah oleh generasi kampus selanjutnya.Percayalah.

    Lihatlah, semakin banyak pengamat dan pembicara akademisi, rakyat justru semakin bobrok mentalnya, dan semakin miskin.Kebodohan tetap melanda. Pengangguran meningkat terus.Nasionalisme menjadi tidak jelas.

    Lantas dimana peran dan partisipasi nyata para ‘orang kampus’ bagi pembangunan mental dan pembangunan ekonomi rakyat dan bangsa kita sekarang? Mana?

    *

    Hampir setengah abad belakangan ini dampak negatif telah meracuni perkembangan bangsa dan negara kita. Terlebih lagi pada mental bangsa kita.Buktinya kita menjadi negara yang sangat bergantung pada asing. Seakan-akan bangsa ini bangsa kerbau yang dicocok hidung yang tidak punya harkat dan martabat diri.


    Bayangkan adakah negara diunia ini yang sekaya-raya negeri kita, yang penuh anugerah Illahi, tetapi rakyatnya sangat miskin? Bukan saja miskin secara ekonomi,tetapi kere mentalnya.
    Mana ada bangsa semacam itu akan dihormati oleh bangsa-bangsa lain didunia?
    Bahkan tidak akan dihormati oleh bangsanya sendiri.

    *

    Mental budak, yang tidak mandiri dan pemalas ini sudah mengusik rasa kebangsaan Dr.Suparman Sumahamijaya MA. MSC.Ak. sejak awal tahun l970an. Sehingga lahirlah gagasan beliau yaitu KEWIRASWASTAAN. Beliau lah yang menciptakan kata WIRASWASTA.

    Saya belajar langsung pada beliau tentang apa itu Kewiraswastaan. Bukan itu saja. Selain agama, saya juga menerapkannya dalam prinsip dan sikap hidup sehari-hari.

    Seorang Wiraswasta itu mempunyai sikap mental unggul yang positif,jujur,hanya mau yang halal saja, mandiri, berani, tangguh, mau bekerja keras dan berjerih payah, berbudi pekerti luhur, menciptakan lapangan kerja, memajukan lingkungan dan menyintai bangsanya sendiri, dan tidak mau bergantung apalagi dijajah bangsa lain.Menjadi manusia yang berharkat dan bermartabat.

    Seorang Wiraswasta mempunyai jiwa pionir dan inovator.Mereka berani mengambil resiko.Mereka adalah para PERINTIS dan bukan pembebek.Mereka menciptakan FROM NOTHING TO SOMETHING.
    Menjadi majikan pada diri sendiri,menjadi penyedia lahan pekerjaan dan bukannya menjadi pengemis pekerjaan.

    *

    Pada masa,Era Orde Baru yang otoriter itu sepertinya saya merupakan satu-satunya wartawan yang mau menyebarkan apa itu “Kewiraswastaan” kepada masyarakat luas melalui media cetak.

    Tapi sepertinya gagasan tersebut lahir pada era yang salah yaitu, Era Orde Baru. Era sarat KKN. Dimana pencuri dan penjarah merajalela bahkan berkuasa, dimana rata-rata pengusaha era tersebut adalah ‘pengusaha’ fasilitas belaka yang hanya bisa hidup bila dekat dengan lingkar kekuasaan.

    Bayangkan lebih dari tiga dekade bangsa ini dididik menjadi bangsa yang culas dan tidak mandiri!

    *
    Akhirnya, orasi-orasi motivator Dr Suparman(suara dan cara berbicaranya yang menggelegar tanpa rasa takut itu),bagaikan berteriak digurun pasir yang tengah dilanda badai. Bahkan makna dan tujuan dari Kewiraswastaan-nya diplintir. Seakan akan menjadi seorang Wiraswasta adalah menjadi tukang tambal ban..menjadi pedagang kaki lima…(Yang kerdil-kerdil saja). Itu memang suatu kesengajaan…

    Tapi lihatlah apa akibatnya pada mental bangsa kita, pada mutu pemimpin,tokoh, dan penguasa bangsa kita sekarang. Kebanyakan bermental kere…bermental pengemis dan pencuri.Mau selamat dalam segala zaman..

    Bahkan mereka mengkhianati bangsanya sendiri dengan menjarah hak rakyatnya tanpa rasa kenyangnya, dan mereka tidak pernah mengajarkan bangsanya untuk menjadi bangsa yang mandiri, yang memiliki harga diri yang tinggi. Agar menjadi bangsa yang mulia bermartabat. Mereka hanya sibuk dengan dirinya sendiri…

    *

    Yang jelas saya tidak pernah mau menjadi bagian dari kelas mental semacam itu. Dan saya tidak mau bermasa bodo. Katanlah walaupun hanya satu ayat.
    Salah satu upaya saya di masa sekarang,saya membangun blog: jobnkarir.wordpress.com.


    Saya termasuk orang yang sangat tidak suka mengajarkan orang dan bangsa ini menjadi pencari kerja.(Karena saya sendiri seumur hidup tidak penah melamar pekerjaan.Melainkan dilamar.Alhamdulillah)

    Sesungguhnya, pekerjaan jangan dicari-cari tetapi harus kita ciptakan!


    Namun saya tidak bisa menutup mata sekarang ini sudah lebih dari 40an juta rakyat kita yang tanpa pekerjaan.
    Dan tak ada yang peduli mengapa sampai bisa begitu.

    *

    Itulah makanya melalui blog jobnkarir.wordpress.com saya ingin membantu para pencari kerja dengan pelbagai kiat. Tetapi… Ujung-ujungnya saya tetap ingin mereka menjadi seorang Entrepreneur/Wiraswasta.

    Bekerja dengan orang lain hanyalah untuk mencari pengalaman sementara. Jadi bukan untuk menjadi pegawai/pekerja seumur hidup.

    *
    Keinginan menjadi pegawai/karyawan/pekerja hanya akan menjadi bagian dari problema dan beban bangsa.
    Tetapi menjadi seorang Entrepreneur/Wiraswasta adalah menjadi solusi dan pemberi jalan keluar bagi permasalahan bangsa.

    Bila ingin menjadi pilar dari pembangunan bangsa kita, jadilah Entrepreneur/ Wiraswasta unggul!
    Dalam segala bidang.

    (Btw,tidak semua pengusaha/wirausaha bisa disebut sebagai seorang Wiraswasta/Entrepreneur.
    Hanya ada dalam blog saya).

    *

    Salam hangat saya,
    Ross Nugroho

  2. Sahabat,

    Benar sekali.Universitas kita sekarang ini hanya melahirkan kaum pengemis pekerjaan dan ‘pengusaha’ yang bergantung pada fasilitas.Hanya melahirkan manusia-manusia yang egois,tanpa ketulusan, cengeng, tidak mandiri, bahkan cenderung pemalas. Mau yang instan, yang gampang-gampang dan yang enak- enak saja,tanpa mau berjerih payah…

    Lihatlah sekarang. Kebanyakan ‘orang-orang kampus’ hanya mau jadi pengamat, yang ujung-ujungnya masuk ring kekuasaan.Para intelektual sekarang bisanya hanya bicara…bicara…bicaraaa…(Padahal menjadi motivatorpun mereka bukan.Karena mereka tidak punya pendirian dan konsep hidup yang jelas. Tidak punya ‘desertasi kehidupan’ dan ‘desertasi kerakyatan dan kebangsaan’ yang akan mereka pertahankan mati-matian. Dalam rezim manapun.
    Belum lagi sangat miskinnya suara dan cara berbicara mereka).

    Para intelektual dengan gelar akademis seabreg itu hanya bicaraaaa terus, tanpa ada yang diperbuatnya secara KONKRIT dan NYATA untuk membangun mental bangsa, serta taraf hidup dan ekonomi bangsa kita..

    Justru mereka yang menjadi selebriti yang kaya raya dengan sering tampilnya berbicara.Padahal mereka sendiri tidak ada bukti kerja nyatanya.
    Tak ada sekolah yang mereka buka dengan biaya pribadinya untuk anak-anak kita belajar gratis, tak ada lapangan kerja yang mereka ciptakan bagi rakyat kita…


    Dan cara ‘mencari nafkah’ para ‘orang kampus; ini,(akan) ditiru mentah-mentah oleh generasi kampus selanjutnya.Percayalah.

    Lihatlah, semakin banyak pengamat dan pembicara akademisi, rakyat kita justru semakin bobrok mentalnya, dan semakin miskin.Kebodohan tetap melanda. Pengangguran meningkat terus.Nasionalisme menjadi tidak jelas.

    Lantas dimana peran dan partisipasi nyata para ‘orang kampus’ bagi pembangunan mental dan pembangunan ekonomi rakyat dan bangsa kita sekarang? Mana?

    *

    Hampir setengah abad belakangan ini dampak negatif telah meracuni perkembangan bangsa dan negara kita. Terlebih lagi pada mental bangsa kita.Buktinya kita menjadi negara yang sangat bergantung pada asing. Seakan-akan bangsa ini bangsa kerbau yang dicocok hidung yang tidak punya harkat dan martabat diri.

    Bayangkan adakah negara didunia ini yang sekaya-raya negeri kita, yang penuh anugerah Illahi, tetapi rakyatnya sangat miskin? Bukan saja miskin secara ekonomi,tetapi kere mentalnya.
    Mana ada bangsa semacam ini akan dihormati oleh bangsa-bangsa lain didunia?
    Bahkan tidak akan dihormati oleh bangsanya sendiri.

    *

    Mental budak, yang tidak mandiri dan pemalas ini sudah mengusik rasa kebangsaan Dr.Suparman Sumahamijaya MA. MSC.Ak. sejak awal tahun l970an. Sehingga lahirlah gagasan beliau yaitu KEWIRASWASTAAN. Beliau lah yang menciptakan kata WIRASWASTA.

    Saya belajar langsung pada beliau tentang apa itu Kewiraswastaan. Bukan itu saja. Selain agama, saya juga menerapkannya dalam prinsip dan sikap hidup sehari-hari.

    Seorang Wiraswasta itu mempunyai sikap mental unggul yang positif,jujur,hanya mau yang halal saja, mandiri, berani, tangguh, mau bekerja keras dan berjerih payah, berbudi pekerti luhur, menciptakan lapangan kerja, memajukan lingkungan dan menyintai bangsanya sendiri, dan tidak mau bergantung apalagi dijajah bangsa lain.Menjadi manusia yang berharkat dan bermartabat.

    Seorang Wiraswasta mempunyai jiwa pionir dan inovator.Mereka berani mengambil resiko.Mereka adalah para PERINTIS dan bukan pembebek.Mereka menciptakan FROM NOTHING TO SOMETHING.
    Menjadi majikan pada diri sendiri,menjadi penyedia lahan pekerjaan dan bukannya menjadi pengemis pekerjaan.

    *

    Pada masa Era Orde Baru yang otoriter itu, sepertinya saya merupakan satu-satunya wartawan yang mau menyebarkan apa itu “Kewiraswastaan” kepada masyarakat luas melalui media cetak.

    Tapi sepertinya gagasan tersebut lahir pada era yang salah yaitu, Era Orde Baru. Era sarat KKN. Dimana pencuri dan penjarah merajalela, bahkan berkuasa, dimana rata-rata pengusaha era tersebut adalah ‘pengusaha’ fasilitas belaka, yang hanya bisa hidup bila dekat dengan lingkar kekuasaan.

    Bayangkan lebih dari tiga dekade bangsa ini dididik menjadi bangsa yang culas dan tidak mandiri!

    *

    Akhirnya, orasi-orasi motivator Dr Suparman(suara dan cara berbicaranya yang menggelegar tanpa rasa takut itu),bagaikan berteriak digurun pasir yang tengah dilanda badai. Bahkan makna dan tujuan dari Kewiraswastaan-nya pun diplintir. Seakan-akan menjadi seorang Wiraswasta adalah menjadi tukang tambal ban..menjadi pedagang kaki lima…(Yang kerdil-kerdil saja). Itu memang suatu kesengajaan…

    Dan kini, lihatlah apa akibatnya pada mental bangsa kita, pada mutu pemimpin,tokoh, dan penguasa bangsa kita sekarang. Kebanyakan bermental kere…bermental pengemis, penjilat, dan pencuri.Mau selamat dalam segala zaman..

    Bahkan mereka mengkhianati bangsanya sendiri dengan menjarah hak-hak rakyatnya tanpa rasa kenyangnya. Mereka tidak pernah mengajarkan bangsanya untuk menjadi bangsa yang mandiri, yang memiliki harga diri yang tinggi. Agar menjadi bangsa yang mulia bermartabat. Mereka hanya sibuk dengan dirinya sendiri…

    *

    Yang jelas saya tidak pernah mau menjadi bagian dari kelas mental budak semacam itu. Dan saya tidak mau bermasa bodo. Katakanlah walaupun hanya satu ayat.

    Salah satu upaya saya di masa sekarang,saya membangun blog: jobnkarir.wordpress.com.

    Saya termasuk orang yang sangat tidak suka mengajarkan orang dan bangsa ini menjadi pencari kerja.(Karena saya sendiri seumur hidup tidak penah melamar pekerjaan.Melainkan dilamar.Alhamdulillah)

    Sesungguhnya, pekerjaan jangan dicari-cari tetapi harus kita ciptakan!

    Namun saya tidak bisa menutup mata sekarang ini sudah lebih dari 40an juta rakyat kita yang tanpa pekerjaan.
    Dan tak ada yang peduli mengapa sampai bisa begitu.

    *

    Itulah makanya melalui blog jobnkarir.wordpress.com saya ingin membantu para pencari kerja dengan pelbagai kiat. Tetapi… Saya tetap ingin mereka menjadi seorang Entrepreneur/Wiraswasta.

    Bekerja dengan orang lain hanyalah untuk mencari pengalaman sejenak yang sementara. Jadi bukan untuk menjadi pegawai/pekerja seumur hidup.

    *

    Keinginan menjadi pegawai/karyawan/pekerja hanya akan menjadi bagian dari problema dan beban bangsa.
    Tetapi menjadi seorang Entrepreneur/Wiraswasta adalah menjadi solusi dan pemberi jalan keluar bagi permasalahan bangsa.

    *

    Bila ingin menjadi pilar dari pembangunan bangsa kita, jadilah Entrepreneur/ Wiraswasta unggul!
    Dalam segala bidang.

    *

    (Btw,tidak semua pengusaha/wirausaha bisa disebut sebagai seorang Wiraswasta/Entrepreneur.
    Hanya ada dalam blog saya).

    *

    Salam hangat saya,
    Ross Nugroho

  3. Benar.Dunia pendidikan kita sekarang hanya melahirkan kaum pengemis pekerjaan dan ‘pengusaha’ fasilitas. Hanya melahirkan manusia-manusia yang egois,tanpa ketulusan, cengeng, tidak mandiri, bahkan cenderung pemalas. Mau yang instan, yang gampang-gampang dan yang enak- enak saja,tanpa mau berjerih payah…

    Lihatlah sekarang. Kebanyakan ‘orang-orang kampus’ hanya mau jadi pembicara dan pengamat, yang ujung-ujungnya masuk ring kekuasaan. Umumnya mereka tidak punya ‘desertasi kehidupan’ dan ‘desertasi kerakyatan dan kebangsaan’ yang akan mereka pertahankan mati-matian. Dalam rezim manapun.

    Mereka banyak yang menjadi selebriti kaya raya.Tapi tak ada sekolah gratis yang mereka bangun dengan biaya pribadinya.Tak ada lapangan kerja yang mereka ciptakan bagi rakyat kita…

    Percayalah.Cara ‘mencari nafkah’ para ‘orang kampus’ ini,(akan) ditiru mentah-mentah oleh generasi kampus selanjutnya.

    *
    Hampir setengah abad belakangan ini dampak negatif telah meracuni mental dan rasa kebangsaan kita.Seakan-akan bangsa ini bangsa kerbau yang dicocok hidung yang tidak punya harkat dan martabat diri.Dijajah terus.

    *
    Mental budak, yang tidak mandiri dan pemalas ini sudah mengusik rasa kebangsaan Dr.Suparman Sumahamijaya MA. MSC.Ak. sejak awal tahun l970an. Sehingga lahirlah gagasan beliau yaitu KEWIRASWASTAAN. Beliau lah yang menciptakan kata WIRASWASTA.
    Saya belajar langsung pada Dr.Suparman tentang apa itu Kewiraswastaan.Dan saya pula yang tutut menyebarkan apa itu “Kewiraswastaan’ melalui media cetak pada masa-masa itu. Bukan saja sekadar menganjurkan, tetapi juga praktekkan dan hayati.

    *
    Seorang Wiraswasta itu mempunyai sikap mental unggul yang positif, jujur, mempunyai prinsip yang jelas, hanya mau yang halal saja, mandiri, berani mengambil keputusan, bertindak cepat dengan perhitungan, tangguh, mau bekerja keras dan berjerih payah, berbudi pekerti luhur, menciptakan lapangan kerja, memajukan lingkungan dan menyintai bangsanya sendiri, dan tidak mau bergantung apalagi dijajah bangsa lain.Menjadi manusia yang berharkat dan bermartabat.

    Seorang Wiraswasta mempunyai jiwa pionir dan inovator.Mereka berani mengambil resiko.Mereka adalah para PERINTIS dan bukan pembebek.Mereka menciptakan FROM NOTHING TO SOMETHING.
    Menjadi majikan pada diri sendiri,menjadi penyedia lahan pekerjaan dan bukannya menjadi pengemis pekerjaan.
    *

    Tapi sepertinya gagasan tersebut lahir pada era yang salah yaitu, Era Orde Baru. Era sarat KKN. Dimana pencuri dan penjarah merajalela, bahkan berkuasa, dimana rata-rata pengusaha era tersebut adalah ‘pengusaha’ fasilitas belaka, yang hanya bisa hidup bila dekat dengan lingkar kekuasaan.
    Bayangkan lebih dari tiga dekade bangsa ini dididik menjadi bangsa yang culas dan tidak mandiri!
    *
    Akhirnya,makna dan tujuan dari Kewiraswastaan-nya pun diplintir. Seakan-akan menjadi seorang Wiraswasta adalah menjadi tukang tambal ban..menjadi pedagang kaki lima…(Yang kerdil-kerdil saja). Itu memang suatu kesengajaan…

    Dan kini, lihatlah apa akibatnya pada mutu mental bangsa kita, pada kualitas pemimpin,tokoh, dan penguasa bangsa kita sekarang….

    Bahkan mereka tega mengkhianati bangsanya sendiri dengan menjarah hak-hak rakyatnya tanpa rasa kenyangnya.

    Mereka tidak pernah mengajarkan bangsanya untuk menjadi bangsa yang mandiri, yang memiliki harga diri yang tinggi. Agar menjadi bangsa yang mulia bermartabat.
    Mereka hanya sibuk dengan dirinya sendiri…
    *
    Saya termasuk orang yang sangat tidak suka mengajarkan orang dan bangsa ini menjadi pencari kerja.

    Pekerjaan jangan dicari-cari, tetapi harus kita ciptakan!

    Namun saya tidak bisa menutup mata sekarang ini sudah lebih dari 40an juta rakyat kita yang tanpa pekerjaan.
    *
    Itulah makanya melalui blog jobnkarir.wordpress.com saya ingin membantu para pencari kerja dengan pelbagai kiat. Tetapi! Hanya jadi pekerja sementara wkt saja.

    Saya tetap ingin diperbanyaknya Entrepreneur/Wiraswasta.

    *
    Menjadi pegawai/karyawan/pekerja hanya akan menjadi bagian dari problema dan beban bangsa.

    Menjadi seorang Entrepreneur/Wiraswasta adalah menjadi solusi dan pemberi jalan keluar bagi permasalahan bangsa.

    *
    Bila ingin menjadi pilar dari pembangunan bangsa kita, jadilah Entrepreneur/ Wiraswasta unggul!Dalam segala bidang.

    *
    (Btw,tidak semua pengusaha/wirausaha adalah jg seorang Wiraswasta/Entrepreneur)

    Salam saya,
    Ross Nugroho

  4. Menjadi Wirausaha Mandiri bukan satu-satunya langkah yang tepat… di negera kita….. Kita menjadi Wirausaha Mandiri mangga…. tetapi… apakah cukup dengan itu…? Bagi saya tidak. Kita menjadi wirausaha mandiri tetap membutuhkan tenaga yang handal dan terpercaya… terampil dalam segala keperluan dalam wirausaha, juga bukan sebagai jaminan kesuksesan usaha kita…. hanya sekedar tenaga yang terampil saja tidak cukup…. di samping kita harus punya tenaga yang terampil sesuai dengan keinginan kita sebagai pemegang kendali/pengusahanya, kita juga harus memilih tenaga yang terampil yang juga punya kepribadian matang. Benarkah tenaga yang terampil itu sudah sangat baik… demi kemajuan usaha kita? Kita perlu tenaga yang terampil, berkepribadian, berkarakter bangsa, tidak punya sifat yang menyepelekan dengan aturan main dalam perusahaan, hukum baik negara maupun agama tentunya. Bila hal yang demikian kita abaikan… tidak mungkin usaha kita akan berhasil… Benar begitu bukan…? Aku sering mengalami hal yang demikian…. Buktikan saja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s