Peka

Beberapa waktu lalu salah seorang teman saya yang juga satu tim dalam lembaga MIT Indonesia memperoleh penghargaan tingkat nasional sebagai Juara II Nasional mewakili Aceh. Bagi saya pribadi, prestasi ini lebih dari sekadar juara tapi juga turut mengharumkan nama Aceh yang beberapa waktu lalu tercemar karena memperoleh “prestasi” Juara II provinsi terkorup se Indonesia. Setiba kembali di kampung halaman, tidak ada penyambutan istimewa untuk teman saya ini sejak di bandara sampai dirumah dan semua berjalan normal seperti biasa, ingat juara nasional lho bersaing dengan 33 provinsi lainnya. Saya pun mengapresiasi dan menghadiahkan kawan saya dengan tenaga yang saya mampu, yakni dengan memperkenalkan kepada media agar profilnya diliput dan mengundang diberbagai program yang diselenggarakan oleh MIT Indonesia seperti Program Mengenal IT di TVRI Aceh dan Program Serambi Techno di Serambi FM. Kami membahas topik yang membuat teman saya ini menjadi Juara Nasional. Selain itu teman-teman di komunitas warung kopi juga mengadakan acara syukuran untuk teman saya ini dengan acara yang bertajuk malam apresiasi teman untuk teman, sekaligus acara nonton bareng di TV Nasional siaran acara penyerahan penghargaan itu. Berbagai karangan bunga ucapan selamat pun terpampang di depan warung kopi. Saya perhatikan,ada yang unik sekaligus janggal plus memprihatinkan. Dari nama-nama orang yang mengirim ucapan selamat, pejabat institusi pendidikan tempat teman saya bekerja ini yang paling tinggi jabatannya hanyalah seorang wakil dekan III, tak ada ucapan selamat dari rektor, dari dekan, dari pimpinan tempat teman saya bekerja, dari gubernur, dari walikota atau pun dari camat. Nah, disinilah kurang pekanya para pejabat dan para tokoh publik yang intelek ini tak menghargai sedikitpun prestasi seseorang yang telah mengharumkan nama daerah dan institusinya. Justru yang mengapresiasi dan peka adalah orang-orang yang selama ini dianggap rendah, preman kampung, orang-orang yg sering nongkrong di warung kopi dan para aktivis. Inilah wajah pemimpin kita. Para pemimpin sudah apatis dan tidak peka lagi terhadap prestasi anak bangsa sebaliknya rakyat kecil saling mendukung. Saya khawatir ke depan, gerakan masyarakat akan menyatu melawan sekumpulan elitis yang congkak dan tak tahu diri ini. Gerakan masyarakat yang berasal dari hati nurani yang tulus dan geram terhadap sikap para elitis yang semakin mementingkan diri sendiri. (bersambung)

Recommended Website Monitoring Services


Berikut list alamat website yang menyediakan jasa monitoring website yang direkomendasikan oleh rekan-rekan di blog-nya mas Harry Sufehmi. Anyway, welcome to Aceh mas Harry 🙂

Aceh on Ubuntu 10.4 Lucid Release Party


Narasumber : Pemerhati IT Aceh – Bpk.Iskandar Bakri (Tengah-Baju Merah) dari Aceh IT-center dan Tgk.Jamaika (Kanan-on Mic)

Banda Aceh – Tidak afdhol rasanya jika release terbaru nya ubuntu ngak diadakan yang namanya release party. Nah kali ini acara release party dikemas dalam bentuk seminar. dimana acara ini bekerjasa sama dengan komunitas ubuntu-id aceh, serta dukungan yang diberikan IT-Center yang telah menyediakan tempat sehingga acara dapat terlaksana. Release kali ini terasa berbeda dengan release biasanya dimana setiap peserta dikenakan biaya namun kali ini kegiatan release party dibuat secara gratis, dan jika peserta ingin memiliki CD lucid, sertifikat dan soft drink dikenakan biaya sebesar Rp 15.000,00 saja, sehingga acara dipenuhi para-para civitas akademik serta kalangan pendidikan lainya baik siswa maupun dosen yang ingin mengenal ubuntu serta mendalami aplikasi-aplikasi open source yang ditujukan untuk pengolahan grafik di ubuntu lucid lynx.


Moderator dalam acara release kali ini dari komunitas ubuntu-id Aceh, T Farhan Alian


Materi seminar disampaikan oleh Ahmad Haris mewakili ubuntu-id aceh dan juga Airputih reg.aceh


Jumlah peserta kurang lebih 100 orang…antusias 🙂


Panitia dari KPLI-Aceh acara sedang ngumpul dicafe IT-center

Support Aceh Go Open Soure 🙂

Sumber : KPLI Aceh News Room

Join UBUNTU ACEH

Memasarkan Wisata Aceh (Promosi di Dunia Maya)

Wed, Jun 16th 2010, 09:13
BEBERAPA waktu lalu, Aceh Green-UNDP dan Aceh IT Center menggagas program pelatihan bertajuk “Peumulia Jamee-Adat Geutanyoe”. Program ini bertujuan meningkatkan kapabilitas dan wawasan para pelaku wisata di Aceh seperti, aparatur pemerintah di Dinas Pariwisata Banda Aceh, Aceh Besar dan Sabang, operator lokasi wisata Aceh, Supir taksi, dan tukang becak.

Tukang becak dibekali materi tatakrama berhadapan dengan turis dan belajar bahasa Inggris dasar. Program yang berlangsung selama 3 hari ini diselenggarakan di Gedung Aceh IT Center (Garuda Theater). Dalam program ini saya juga ikut terlibat sebagai pemateri dengan topik “E-Marketing for Tourism”, bagaimana memasarkan pariwisata Aceh via internet. E-Marketing atau pemasaran menggunakan internet saat ini telah menjadi suatu keharusan dalam mempromosikan produk atau jasa yang ingin ditawarkan.

Setiap hari, pengguna internet semakin bertambah. Dari 6 Milyar penduduk dunia, ada 1,8 Milyar orang sehari-hari menggunakan internet. Di Indonesia sendiri, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, jumlah pengguna internet mencapai 30 Juta jiwa (www.internetworldstats.com), dengan pertumbuhan mencapai seribu persen. Lalu, apa pentingnya bagi dunia pariwisata Aceh. Industri Pariwisata adalah salah satu industri yang memberikan kontribusi yang besar bagi ekonomi dan mampu menyerap banyak tenaga kerja baru. Data terakhir menyebutkan, total penerimaan bagi industri pariwisata seluruh dunia mencapai US$ 1.1 trillion atau US$ 3 billion per hari. Amerika Serikat sebagai negara dengan penerimaan paling banyak dari industri pariwisata menerima US$ 94.5 Billion pada tahun 2009 (wikipedia.org). Kota yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan asing adalah Paris, disusul dengan Bangkok, Singapore dan Kuala Lumpur pada urutan 3,4 dan 6 mewakili Asia. 87 persen pengguna internet mencari sumber informasi mengenai informasi wisata sebelum memutuskan tempat wisata yang akan dikunjungi (Oxford internet Surveys, June 2009). Data ini menunjukkan, Asia masih menjadi tujuan wisata favorit para wisatawan asing. Dan semua kota tersebut menggandalkan E-Marketing sebagai salah satu ujung tombak strategi promosi pariwisata.

Pariwisata Aceh
Lantas, bagaimana dengan Aceh? Kita bersyukur, Aceh memiliki potensi wisata yang bahkan bisa dikatakan lebih baik diantara kota-kota lain di Asia bahkan Dunia. Terlebih, Aceh pascatsunami menjadi magnet bagi wisatawan asing yang penasaran ingin melihat objek-objek mengagumkan sisa-sisa peninggalan dahsyatnya tsunami. Hal ini seharusnya dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dalam memeromosikan wisata Aceh lainnya, jangan sampai kita merasa cukup dengan berbangga hati dengan adanya peninggalan tsunami saja tanpa memperdulikan objek wisata Aceh lainnya yang harus turut dirawat dan dipelihara dengan baik. Cukup sudah, kita bicara potensi, potensi dan potensi, saatnya implementasi.

Visa On Arrival
Kita juga senang melihat perkembangan dunia pariwisata Aceh yang didukung oleh pemerintah kota dengan mencanangkan Visit Banda Aceh Year 2011, hal ini ditunjukkan dengan mulai diberlakukannya Visa On Arrival (VoA) sejak Selasa 8 Juni lalu. Dengan diberlakukannya VoA, maka warga asing yang datang dan masuk lewa SIM tidak perlu lagi menghubungi perwakilan Indonesia untuk memohon visa masuk ke Indonesia. Tapi, cukup menunjukkan paspor, visa langsung diberikan oleh petugas Imigrasi. Ini merupakan sebuah prestasi tersendiri karena Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) merupakan yang ketiga yang memberlakukan Voa setelah Bandara Soekarno Hatta dan Bandara Ngurah Rai di Bali.

Kehadiran VoA ini perlu diiringi dengan persiapan matang fasilitas informasi wisata Aceh karena jika terjadi ledakan wisatawan yang berkunjung ke Aceh dan wisatawan kecewa karena kurangnya informasi yang tersedia bukan tidak mungkin wisatawan enggan berkunjung kembali ke Aceh. Upaya yang cukup baik telah dilakukan oleh pemerintah kota dengan dicetaknya peta objek wisata Banda Aceh terkini dan brosur-brosur seperti brosur kuliner yang disiapkan dengan tampilan yang menarik. Namun, saya cukup prihatin setelah melihat brosur wisata kuliner Aceh, karena alamat website yang tercantum di bawah logo Dinas Pariwisata Aceh adalah alamat website pemerintah kota Banda Aceh, http://www.bandaacehkota.go.id. Ini menunjukkan, pemerintah kota belum siap dalam mempromosikan wisata Aceh alias masih “cilet-cilet”. Bagaimana mungkin, website pemerintah yang biasa digunakan untuk tender melalui internet dan menyediakan informasi seputar kegiatan pemerintah kota dapat menginterprestasikan website pariwisata Aceh. Ini sebuah kelucuan dan terkesan pemerintah kota tidak professional. Website adalah pintu gerbang informasi wisatawan sebelum memutuskan pergi ke suatu tempat yang ingin mereka kunjungi. Even-even lokal yang diselenggarakan pemerintah seperti Festival Perahu, Wind Surfing, Pekan Kebudayaan Aceh seharusnya dipromosikan menggunakan internet agar wisatawan mendapat informasi event-event menarik yang diselenggarakan di Aceh.

Sinergi Sektor Lokal
Kita bersyukur, peran masyarakat dalam membantu peran pemerintah dalam memajukan pariwisata Aceh melalui internet sangat besar walau para sektor lokal ini tidak mendapat bantuan dari pemerintah. Sebut saja, website Aceh.Net yang populer pada mesin pencari google.com dengan kata kunci “Aceh”, “Visit Aceh” dan “Aceh Tourism”, website ini dapat menginterprestasikan pusat informasi pariwisata Aceh karena contentnya yang lengkap dan berbahasa Inggris. Atau website TravelAceh.Com, satu-satunya blog yang turut mempromosikan pariwisata Aceh dan juga akrab dengan mesin pencari Google.com dengan kata kunci “Travel Aceh”, “Visit Aceh”. Dan masih banyak lagi sektor swasta (private sector) yang bergerak memajukan Aceh seperti Hotel Hermes Palace (hermespalacehotel.com), thepade.com, grandnanggroe.com, acehblogger.com, aceh-adventure.org, gunung-leuser-trek.net, acehtrip.com, acehtours.com, travelnurin.com, virtualaceh.com dan bahasaaceh.wordpress.com.

Seandainya ada sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun pariwisata Aceh, Insyallah pariwisata Aceh akan lebih cepat maju dan berkembang. Seperti halnya yang dilakukan oleh pemerintah New York dengan mengeluarkan dana sebesar US$20 Million kepada private sector yang bergerak mempromosikan wisata New York tetapi dampaknya pemerintah menerima US$10 Billion dari sektor swasta. Jadi, sesungguhnya tidak ada yang rugi jika kita mau bekerjasama memajukan Aceh dengan niat dan cara yang baik.

Bukankah, aparatur pemerintah kita sering berkunjung ke luar negeri dan bahkan terkadang dalam waktu yang lama. Seharusnya, pemerintah dapat mengambil pengalaman berharga dari negara-negara lain yang sudah sukses dengan industri pariwisatanya.

Cukup sudah kita bicara potensi, potensi dan potensi. Saatnya berbuat nyata untuk memajukan pariwisata Aceh dengan membuka akses ke seluruh dunia melalui internet, merawat dan memelihara objek wisata Aceh dan yang terpenting merangkul, menjalin sinergi dengan sektor swasta yang saat ini terus bergerak memajukan parawisata Aceh.

*  Penulis adalah Konsultan IT di Banda Aceh.

ISSUU : Digital Publishing

Issuu adalah aplikasi berbasis web yang dapat anda gunakan untuk publikasi dokumen anda seperti PDF,Word atau Powerpoint dengan bentuk animasi yang sangat menarik. Pertama kali saya tahu aplikasi ini setelah saya melihat laporan Grameen Foundation. Contohnya dapat dilihat disini atau disini http://www.grameenfoundation.org/tsunami

Aplikasi ini dapat anda gunakan dengan gratis dan tersedia versi pro / berbayar. Untuk versi berbayar anda cukup menganggarkan $19/bulan.

Screenshot :

ISSUU.COM

GRAMEEN FOUNDATION Report using ISSUU

Aceh Open Source Society Badge

Hi all, This year, im join Aceh Open Source Society (AOSS) which founded by Iskandar Bakri. Im very excited to this forum, here we can share and contribute all about open source applications. Example, one of AOSS Member, Haris show us about Blank On Linux .

Im inspired to created AOSS badge and put into my blog. But im still make it manually. Maybe you can share to me how to create badge with code into sidebar.

This is how i created AOSS badge into my blog sidebar :
1. Print screen your AOSS member picture on AOSS Website http://aceh-oss.ning.com (Only AOSS member have this badge or create by yourself 🙂
2. Crop the picture with image editor
3. Upload into your wordpress blog on admin
4. Copy image url
5. Created this code on your sidebar widget

<a href=”http://acehoss.ning.com”<img src=”xxxxxxxxxxxxxxxxx” alt=”” /></a>

note : xxxxxx = your image url

6. Voila…You have AOSS Banner now on your sidebar.

Other notes :

– If your blog hosted by wordpress, you can’t upload standar code where in member area of aceh-oss.ning.com included (click GET BADGE), you should have your own host if you want put ning badge code

Ubuntu Muslim Edition > Linux Sabily 9.10 (Gaza) Release!

Alhamdulillah, Akhirnya yang dinanti-nati datang juga Ketika membuka web official Sabily saya dikejutkan dengan release Sabily 9.10 yang di beri nama GAZA ini merupakan bentuk solidaritas terhadap saudara-saudara kita yang berada di Palestine.

Bagi teman-teman yang ingin download klik disini

Bagi teman-teman yang sudah terinstall ubuntu 9.10, untuk mengkonversi Ubuntu sabily 9.10, ikuti langkah berikut:

Buka jendela terminal (Aplikasi?Aksesori?Terminal), dan jalankan perintah berikut:

sudo aptitude update && sudo aptitude safe-upgrade

sudo aptitude dist-upgrade

sudo wget http://www.sabily.org/sources.list.d/`lsb_release -cs`.list –output-document=/etc/apt/sources.list.d/sabily.list; sudo apt-get -q update; sudo apt-get –yes -q –allow-unauthenticated install sabily-keyring; sudo apt-get -q update

Kemudian instal paket sabily:

Lanjutkan membaca “Ubuntu Muslim Edition > Linux Sabily 9.10 (Gaza) Release!”

Linux Mint 8 “Helena” – Fastest Linux I Ever Installed

Banda Aceh – Believe or not, anda hanya perlu 10 menit dan Linux Mint 8 “Helena” langsung bisa dipakai di PC anda, tak perlu lagi install office,install pdf,install winamp,install lain-lain, dah komplit tuh, wow…awesome right. Setelah oprek sekitar 1×2 jam akhirnya saya menemukan cara instalasi linux di PC. Spek PC standar… dengan chipset Intel. Saya install melalui USB Bootable, btw, this is my First experience pas bikin usb bootable Linux, thanks to Haris atas ilmunya. Saya membuat usb bootable linux mint 8 melalui distro ubuntu muslim edition or Sabilly 9.04. Trims buat Bung Chandra yang telah memprovokasi saya untuk melirik Linux Mint. Tampaknya saya mulai jatuh cinta sama distro yang satu ini.

Oh ya, test drive linux mint di Zudo IT Learning Center hasilnya sangat menggembirakan. Seorang pelanggan yang sama sekali awam komputer dan “terjebak” booting langsung ke linux mint berakhir tanpa komplain alias selama menggunakan linux mint tidak ada komplain or minta bantuan operator, yes…Misi ZUDO untuk menggiring pengguna internet beralih ke linux mulai menampakkan hasil.

Berikut screenshot proses instalasinya menggunakan usb bootable, artinya anda harus booting melalui usb, kalo di pc saya menggunakan F8 untuk memilih pilihan booting, lalu pilih flashdisk anda yang sudah terinstall linux mint, selamat mencoba, kalo ada masalah jangan segan kontak saya di 0816 347 701 or YM:tfarhan12 or Email tfarhanz@gmail.com >>>> be free 🙂


Lanjutkan membaca “Linux Mint 8 “Helena” – Fastest Linux I Ever Installed”

Belajar Fokus

Belajar fokus, sulit tapi bisa. 1 jam untuk pekerjaan, tepatnya 45 menit, 15 menit untuk mengerjakan hal lain seperti menjawab sms dari hp,balas telepon. Wow…dahsyat, inilah ilmu yg saya peroleh dari sahabat saya yg sangat luarbiasa, M Chandra (CEO eCerdas.Com). Saya selama ini memang sedang melakukan pencarian makna fokus sebenarnya dan semakin hari saya semakin menemukan arti fokus dan sedang berusaha untuk fokus. Kata fokus menyentak pikiran saya setelah keluar dari nasehat seorang putra Aceh yang pernah menjadi Pimpinan sebuah Bank swasta di Inggris. Nasehat beliau sangat sederhana, kalau mau sukses, harus fokus dalam suatu bidang.

Jadi Dosen di STMIK Ubudiyah, Banda Aceh

STMIK UBUDIYAH-T FARHAN

Banda Aceh – Alhamdulillah, tak terasa berperan sebagai dosen telah memasuki tahun kedua. Baru tau juga ternyata saya terdaftar di Dikti, lumayan…Menjadi tenaga pengajar di STMIK Ubudiyah, salah satu kampus IT di Banda Aceh ini cukup menantang karena mahasiswa/i sebagian besar berasal dari luar daerah dan umumnya masih awam terhadap dunia IT. Selain itu, tantangan lainnya adalah mengenai sistem honor yang diterapkan oleh pihak kampus yang menerapkan sistem pembayaran honor setiap 6 bulan sekali dengan honor Rp.17.500 per sks. Barangkali inilah kenapa putra-putri bangsa kita enggan menyebarkan ilmu di negerinya sendiri karena pertimbangan finansial yang sangat tidak memadai. Perhatian semua pihak dalam dunia pendidikan masih sangat minim, Pemerintah menomorwahidkan Ekonomi, Perusahaan menomorwahidkan Profit. Saya yakin negara-negara maju menomorsatukan pendidikan di atas segalanya. Selama negara belum memusatkan perhatian kepada dunia pendidikan, nyaris mustahil Indonesia bisa naik “grade” menjadi negara maju sejajar dengan Amerika,India,China,Jepang dan negara maju lainnya.

Saya yakin ada hikmah besar di balik perjuangan kecil kita dan jangan lupa, jalankan bisnis sekecil apapun. Jangan pernah takut gagal, karena semakin anda bijak menyikapi kegagalan semakin dekat anda dengan kesuksesan.

Salam sukses untuk guru Indonesia 🙂

Dalael Khairat : Sebuah Warisan

Jum'at, 09 January 2008 - Persembahan Dalael Khairat oleh Kelompok Bijeeh Muda santri TPA Al Fatah Yayasan H. Harun Keuchik Leumik desa Lamseupeung pada saat Acara Perayaan hari asyura di kediaman Aceh Cultural Institute, Banda Aceh
Jum'at, 09 January 2008 - Persembahan Dalael Khairat oleh Kelompok Bijeeh Muda santri TPA Al Fatah Yayasan H. Harun Keuchik Leumik desa Lamseupeung pada saat Acara Perayaan hari asyura di kediaman Aceh Cultural Institute, Banda Aceh

Dalael khairat adalah ibadah yang beasal dari kesufian di Arab yang dilakukan dalam kelompok – kelompok tariqat Islam.
Dalael Khairat artinya adalh ” bukti-bukti kebaikan”. Ia merupakan kumpulan karya-karya sastra berupa naskah-naskah qasidah, syair-syair madah yang awalnya dirangkum oleh Syaid bi Abdullah Muhammad bin Sulaiman Al Jazuli di Arab, sebagi wujud tingginya kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW,. Oleh karena itu Dalel Khairat berisi puji-pujian dan doa-doa kepada baginda Rasulullah.

Lanjutkan membaca “Dalael Khairat : Sebuah Warisan”